-sumpek-

hari berganti hari tak terhitung lagi dan dia lupa bahwa dia manusia, lupa bahwa dia berhak atas kebebasan dan waktu luang, bahwa hidup bukan cuma kerja tidur dan makan, bahwa ada emosi berjudul ceria, bahwa ada ekspresi bernama tawa.

waktu berlalu tak terekam lagi dan mereka lupa bahwa dia pernah tertawa bahwa dia pernah bahagia dan bahwa dia manusia. lalu detik demi detik berjalan meninggalkan dia, meninggalkan satu manusia yang lupa akan dirinya, meninggalkan haknya tanpa jejak untuk dijejalkan kedalam waktu semu yang disisakan oleh mereka baginya.

hari yang cuma dua mereka sebut kebebasan yang mereka berikan sehingga dia lupa bahwa sebelum itu dia punya tujuh hari yang memang ADA tanpa perlu diberikan siapa-siapa. waktu yang cuma satu jam mereka sebut istirahat yang mereka berikan sehingga dia lupa bahwa sebelum itu dia tak perlu istirahat karena tak pernah merasa lelah atau penat.

dan kini dia bahagia cukup dengan belanja atau pandangi kotak segi empat dengan gambar berjalan bersuara, puas dengan berjalan pandangi benda-benda yang tak mampu dibelinya dan tersenyum ketika bisa lelap lebih dari enam jam. dia lupa bahwa dulu ada yang namanya pertanyaan penasaran dan perjuangan, lupa bahwa ada emosi yang lebih dalam daripada tersenyum ketika keadaan menuntutnya, lupa bahwa dia manusia.

siapa yang akan mengingatkan dia ketika ternyata di dunia ini sudah tak ada lagi manusia? cuma robot-robot kota yang digerakkan tangan tak kasat mata…

-17 Maret 2007-

3 thoughts on “-sumpek-

  1. zaldi

    can’t say it better than you! menyedihkan sekali karena banyak orang harus mengalami ini, dan menyedihkan sekali karena cara hidup seperti ini dianggap sebagai cara hidup yang “seharusnya”..

    some of us might consider this as a “phase”, simply to make ends meet in the beginning, but not all can escape its clutches.

    hope you get to free yourself from it someday, and do what you are meant to do
    hope we all do.

    Balas
  2. and.i.try Penulis Tulisan

    amen to that zal.
    dulu gw juga mengawali karier dengan rasionalisasi bahwa ini harga yang harus gw bayar untuk suatu hari nanti bisa mewujudkan mimpi gw. tapi lama kelamaan kita tersedot ke dalam dunia korporasi sampai lupa bahwa kita pernah punya mimpi.
    gw gak bilang bahwa berkarier di korporasi itu salah, tapi ketika sudah menjadi tidak rewarding sebagai bentuk aktualisasi diri lo, mmm…
    saatnya melangkah mungkin?

    Balas
  3. Ping balik: Monday Morning Boost « Nonsense & a Cup of Cake

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s