-selalu begini-

Selalu begini.

Debar yang saling berpacu membentuk irama tercepat.
Sesak yang tetiba memberangus setiap sisa udara hingga tercekat.

Selalu begini.

Raga yang meronta tanpa suara, membunyikan tanda bahaya entah untuk apa. Ya ya ya, aku dengar, lalu kenapa?
Tanda tanya yang jatuh bertubi, membelit logika menyisa uap. Menyisa malam. Menyisa bulan dan bintang bermain adu pendar tanpa tahu apa-apa. Tanpa tahu disini ada raga meronta.

Selalu begini.

Mungkin hanya insomnia. Mungkin hanya lelah. Mungkin hanya sekelumit drama, penghabisan sebelum berakhir kuota 24 jam hari ini. Mungkin, mungkin dan mungkin.
Sudah jangan tambahkan lebih banyak ragu disela kabut ini. Selaput abu-abu seharusnya membantu kita berpikir, alih-alih justru menyarukan logika dengan entah apa.
Sudah.

Selalu begini.

-rindu-

Patutkah kita bicara rindu?
aksara yang semu terkalahkan kompulsi demi mencurangi bisu

Perlukah kita bicara rindu?
mata sudah lebih dulu mempecundangi abu-abu yang kusajikan untukmu

-sangkal-

Satu hari nanti semoga yang kuingat bukan cuma janjimu, tapi juga ingkarannya
Satu hari nanti semoga yang kukenang bukan cuma anganku, tapi juga kenyataannya

-untuk mereka yang memilih terpenjara dalam penyangkalan

Dear nurturing instincts,
Now isn’t really a good time. Kthxbye.

Careerwoman.

-penat-

Lelahku, lelahmu.
Beradu.
Tergagu.

-satu-

Terkadang memang tidak ada yang lebih mewah dari hening. Terbebas sejenak dari remah-remah teknologi dan bisingnya hari.
Terkadang memang tidak ada yang lebih nikmat dari bergumul dengan diri. Menaklukan dan mengakrabinya, sang kawan sekaligus lawan sejati.

Bebas dari distorsi. Melepas ekspektasi. Tanpa pretensi.

Terkadang memang tidak ada yang lebih meriah daripada sunyi. Bersoraklah. Cuma aku disini. Namun tidak sepi.

FINALLY… after failing terribly to find it in 4shared, I guess I’ll have to be content to have this “video” version instead.

Consider yourself warned.

Wanderlust. Looking for next destination.

R A S A

Rasa tak pernah salah.
Maka ia tak perlu dibela.

Hanya saja logika perlu berjuang lebih keras ketika konteks tak mampu menangkan rasa.

Blog pada WordPress.com.
Theme: Esquire by Matthew Buchanan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 316 pengikut lainnya.